KONSEP DASAR EPILEPSI

Rabu, 08 Mei 2013

A. Pengertian 1. Epilepsi atau yang lebih sering disebut ayan atau sawan adalah gangguan sistem saraf pusat yang terjadi karena letusan pelepasan muatan listrik sel saraf secara berulang, dengan gejala penurunan kesadaran, gangguan motorik, sensorik dan mental, dengan atau tanpa kejang-kejang (Ahmad Ramali, 2005 :114). 2. Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala yang datang dalam serangan-serangan, berulang-ulang yang disebabkan muatan listrik yang abnormal sel-sel saraf otak, yang bersifat reversibel dengan berbagai etiologi (Arif Mansjoer , 2000 : 27). 3. Epilepsi adalah serangan kehilangan atau gangguan kesadaran rekuren dan paroksimal, biasanya dengan spasme otot tonik-klonik bergantian atau tingkah laku abnormal lainnya (Helson, 2000 : 339-345). 4. Epilepsi merupakan gangguan susunan saraf pusat (SSP) yang dicirikan oleh terjadinya bangkitan (seizure, fit, attact, spell) yang bersifat spontan dan berkala (Harsono, 2007). 5. Epilepsi adalah gangguan kejang kronis dengan kejang berulang yang terjadi dengan sendirinya, yang membutuhkan pengobatan jangka panjang (Judit M Wilkinson, 2002 : 576). B. Etiologi 1. Menurut Pincus Catzel halaman 216-226, penyebab epilepsi yaitu: a. Pra Lahir-genetika Kesalahan metabolisme herediter seperti penyakit penimbunan glikogen dan fenilketonuria. Anomali otak kongenital seperti porensefali, infeksi dalam rahim seperti rubella, penyakit cytomegalo virus, meningo-ensefalolitis dan toksoplasmosis. b. Perinatal Trauma kelahiran, infeksi, hiperbilirubinemia, hipoglikemia dan hipokalsemia. c. Paska Lahir Termasuk meningitis, trauma, ensefalitis, ensefalopati (misalnya keracunan timah hitam, gangguan elektrolit berat, neoplasma dan kelainan degeneratif SSP. 2. Menurut Arif Mansjoer halaman 27, penyebab epilepsi yaitu : a. Idiopatik Sebagian epilepsi pada anak adalah epilepsi idiopatik. b. Faktor Herediter Ada beberapa penyakit yang bersifat herediter yang disertai bangkitan kejang seperti sklerosis tuberosa, neurofibromatosis, fenilketonuria, hipoparatiroidisme, hipoglikemia. c. Faktor Genetik Pada kejang demam dan breath holding spell. d. Kelainan Kongenital Otak Atrofi, porensefali e. Gangguan Metabolik Penurunan konsentrasi glukosa darah (Hipoglikemia), hipokalsemia, hiponatremia, hipernatremia 1) Glukosa digunakan dalam metabolisme dari otak. Kekurangan glukosa sama merusak seperti kekurangan oksigen. 2) Air dan elektrolit sepanjang membrane sel bertanggungjawab bagi keadaan terangsang (eksitabilitas) neuron dan karena setiap gangguan elektrolit dapat mencetuskan konvulsi. f. Infeksi Radang yang disebabkan bakteri atau virus pada otak dan selaputnya, toksoplamosis. g. Trauma Cedera kepala, kontusio cerebri, hematoma subaraknoid, hematoma subdural. h. Neoplasma dan selaputnya Tumor otak yang jinak (benigna) lebih sering mengakibatkan epilepsi dibaning tumor ganas. Hal ini didapatkan pada sekitar 25-40 % penderita tumor otak. i. Keracunan Timbal (Pb), kamper (kapur barus), air. 3. Faktor Presipitasi Faktor presipitasi ialah faktor yang mempermudah terjadinya serangan, yaitu : a. Faktor sensori Cahaya, bunyi-bunyi yang mengejutkan, air panas. b. Faktor sistenis Demam, penyakit infeksi, obat-obatan tertentu (misal fenotiazin), hipoglikemia dan kelelahan fisik. c. Faktor mental Stress, gangguan emosi. d. Haid Penelitian menduga bahwa perubahan keseimbangan hormon semasa haid ikut berperan dalam mencetuskan serangan. C. Patofisiologi Menurut Harsono, sistem saraf merupakan communication network (jaringan komunikasi). Otak berkomunikasi dengan organ-organ tubuh yang lain melalui sel-sel saraf (neuron). Pada kondisi normal, impuls saraf dari otak secara elektrik akan dibawa neurotransmitter seperti GABA (gamma-aminobutiric acid dan glutamat) melalui sel-sel saraf (neuron) ke organ-organ tubuh lain. Faktor-faktor penyebab epilepsi di atas, mengganggu sistem ini sehingga menyebabkan ketidakseimbangan aliran listrik pada sel saraf dan menimbulkan kejang yang merupakan salah satu ciri epilepsi. Gambar : Neurotransmiter D. Pathway Keperawatan E. Manifestasi Klinis Menurut Commision of Classification and Terminology of The International League Against Epilepsy (ILAE) tahun 1981, klasifikasi epilepsi sebagai berikut : 1. Epilepsi Parsial (Fokal, Lokal) a. Epilepsi Parsial Sederhana; sawan parsial dengan kesadaran tetap normal. 1) Dengan Gejala Motorik a) Fokal motorik tidak menjalar : epilepsi terbatas pada satu bagian tubuh saja b) Fokal motorik menjalar : epilepsi dimulai satu bagian tubuh dan menjalar luas ke daerah lain. Disebut juga epilepsi Jackson (epilepsi lobus temporalis). Umumnya hampir terjadi pada semua pasien dengan struktur otak, serangan umumnya dimulai pada tangan, kaki, dan muka diakhiri dengan seizure grandmal. c) Versif : epilepsi disertai gerakan memutar kepala, mata, tubuh. d) Postural : epilepsi disertai lengan dan tungkai kaku dalam sikap tertentu. e) Disertai gangguan fonasi : sawan disertai arus bicara yang terhenti atau pasien mengeluarkan bunyi-bunyi tertentu. 2) Dengan gejala somatosensoris atau sensasi spesial : epilepsi disertai halusinasi sederhana yang mengenai kelima pancaindera dan bangkitan yang disertai vertigo. a) Somatosensori : timbul rasa kesemutan atau seperti ditusuk-tusuk jarum b) Visual : terlihat cahaya c) Auditorius : terdengar sesuatu d) Olfaktorius : terhidu sesuatu e) Gustatorius : terkecap sesuatu f) Disertai vertigo 3) Dengan gejala atau tanda gangguan saraf otonom (sensasi epigastrium, pucat, berkeringat, piloereksi, dilatasi pupil) 4) Dengan gejala psikis a) Disfasia : gangguan bicara misalnya mengulang suatu kata atau bagian kalimat. b) Demensia : gangguan proses ingatan misalnya merasa seperti sudah mengalami, mendengar, melihat, atau sebaliknya tidak pernah mengalami. c) Kognitif : gangguan orientasi waktu, merasa diri berubah. d) Afektif : merasa sangat senang, susah, marah, takut. e) Ilusi f) Halusinasi kompleks b. Epilepsi Parsial kompleks / Psikomotor 1) Serangan parsial sederhana diikuti gangguan kesadaran : kesadaran mula-mula baik kemudian baru menurun. a) Dengan gejala parsial sederhana A1-A4; gejala-gejala seperti pada golongan A1-A4 diikuti dengan menurunnya kesadaran. b) Dengan automatisme : gerakan-gerakan perilaku yang timbul dengan sendirinya, misalnya menelan-nelan, berjalan, berbicara, dan lain-lain. 2) Dengan penurunan kesadaran sejak serangan ; kesadaran menurun sejak permulaan serangan. a) Dengan penurunan kesadaran b) Dengan automatisme c. Epilepsi Parsial yang berkembang menjadi bangkitan umum (tonik-klonik, tonik, klonik) 1) Epilepsi Parsial sederhana yang berkembang menjadi bangkitan umum 2) Epilepsi Parsial kompleks yang berkembang menjadi bangkitan umum 3) Epilepsi Parsial sederhana yang berkembang menjadi bangkitan parsial kompleks lalu berkembang menjadi bangkitan umum. 2. Epilepsi Umum (Konvulsif / Non Konvulsif) A. 1. Epilepsi Lena (Absence) atau Petit Mal Kegiatan yang sedang dikerjakan terhenti, maka tampak membengong, bola mata dapat memutar ke atas, tak ada reaksi bila diajak bicara. Biasanya berlangsung selama ¼ - ½ menit dan sering dijumpai pada anak. 2. Epilepsi Lena tak khas a) Gangguan tonus yang lebih jelas b) Permulaan dan berakhirnya bangkitan tidak jelas. B. Epilepsi Mioklonik Terjadi kontraksi mendadak, sebentar dapat kuat atau lemah sebagian otot atau semua otot-otot. Sekali atau berulangg-ulang dan dijumpai pada semua umur. C. Epilepsi Klonik Tidak ada komponen tonik, hanya terjadi kejang kelenjot. Dijumpai sekali pada anak. D. Epilepsi Tonik Tidak ada komponen klonik, otot-otot hanya menjadi kaku, juga terdapat pada anak. E. Epilepsi Tonik-klonik Keadaan ini dimulai secara mendadak disertai kehilangan kesadaran. Sering dijumpai pada umur diatas balita. Kejang berlangsung kira-kira 15-30 detik. Biasanya diawali dengan aura (peringatan akan terjadi serangan lebih lanjut). Urutannya sebagai berikut : 1. Aura Bentuk aura bermacam-macam, misalnya : a) Merasa sakit perut atau tidak enak di perut. b) Merasa ada sesuatu di perut, yang kemudian naik ke dada dan kepala. c) Nyeri kepala. d) Telinga berdengung. e) Membaui bau yang tidak sedap, atau bau busuk. 2. Fase Tonik, yaitu kontraksi yang kaku dari semua otot. Selama fase ini lidah atau pipi dapat tergigit. Kontraksi otot mencegah pernapasan dan anak dapat menjadi biru / tidak sadar. Mulut dapat berbusa karena hembusan nafas. 3. Fase Kronis Selama fase ini, gerakan menghentak dimulai yang dapat menjadi keras. Cedera dapat disebabkan oleh gerakan yang kuat. Disertai inkontinensia urin dan feses. 4. Koma Otot mengalami relaksasi lengkap. Dapat berlangsung selama 10 menit sampai beberapa jam dan didikuti suatu periode bingung dan anak menjadi gelisah. 3. Epilepsi Tak Tergolongkan Termasuk golongan ini adalah bangkitan pada bayi berupa gerakan bola mata yang ritmik, mengunyah-ngunyah, menggigil dan pernapasan yang mendadak berhenti sementara. Kelainan yang meniru Epilepsi menurut Pincus Catzel : 1. Serangan menahan nafas Biaanya terjadi antara umur 6 dan 39 bulan. Biasanya dicetuskan oleh nyeri, ketakutan dan frustasi. Bayi menangis sampai semua udara dipaksa keluar dari dadanya dan cepat mengalami sianosis. Serangan berlanjut disertai atau tanpa konvulsi. 2. Synkope (pucat pasi) Seperti serangan menahan nafas, dapat dicetuskan oleh nyeri dan ketakutan. Anak menjadi pucat, pingsan dan mungkin disertai konvulsi. Dapat pula disertai henti jantung. 3. Anoksia Serebrum Dapat disebabkan oleh seranagn pingsan karena penyakit jantung kongenital. 4. Serangan Pingsan Lazim pada pubertas dan selama adolensen, yang berhubungan erat adalah pingsan hipotensi ortostatik. 5. Masturbasi Masturbasi dapat mengambil bentuk aneh pada masa kanak-kanak. Ia sering disertai goyangan berirama “flushing”, wajah dan pandangan berkonsentrasi kuat. Saat mencapai puncak, anak menjadi lemah dan linglung. 6. Histeria Histeria menimbulkan serangan aneh yang tidak boleh dikacaukan dengan epilepsi murni. Kadang-kadang seorang anak dapat mencontoh serangan epilepsi pada saudaranya untuk mendapat perhatian dari ibunya. F. Pemeriksaan Penunjang 1. Elektroensefalogram (EEG) a) Tujuan : dapat membuktikan fokal atau gangguan disfungsi otak akibat lesi organic melalui pengukuran aktivitas listrik dalam otak. b) Pada epilepsy pola EEG dapat membantu untuk menentukan jenis dan lokasi bangkitan. Didapatkan hasil berupa gelombang epilepsy form discharge sharp wave spike and wave. c) Pemeriksaan EEG harus dilakukan secara berkala karena kira-kira 8-12 % pasien epilepsi mempuntai rekaman EEG yang normal. 2. Pemeriksaan Radiologis a) Foto tengkorak : untuk mengetahui kelainan tulang tengkorak, destruksi tulang, kalsifikasi intrakranium yang abnormal (yang disebabkan oleh penyakit dan kelainan), juga tanda peningkatan TIK seperti pelebaran sutura, erosi sela tursika, dan sebagainya. b) Pneumoensefalografi dan ventrikulografi Dilakukan atas indikasi tertentu untuk melihat gambaran system ventrikel, sisterna, rongga subaraknoid serta gambaran otak. c) Arteriografi Untuk mengetahui pembuluh darah di otak; apakah ada pernjakan (neoplasma, hematom abses), penyumbatan (thrombosis, peregangan, hidrosefalus) atau anomali pembuluh darah. d) Pemeriksaan Pencitraan Otak MRI bertujuan untuk melihat struktur otak dan melengkapi data EEG. Yang berguna untuk membandingkan hipokampus kanan dan kiri dan mendeteksi kelainan pertumbuhan otak, tumor yang berukuran kecil. e) Pemeriksaan laboratorium Dilakukan atas indikasi untuk memastikan adanya kelainan sistemik seperti hipoglikemi dan hiponatremia. G. Komplikasi Menurut Yuda Turana, 2006 : 1. Gangguan Memori a) Fenomena “tip of tounge” yaitu penderita tahu kata yang ingin diucapkan, tapi tidak terpikir olehnya. b) Checking, yaitu harus kembali memerikaa hal-hal yang dilakukan. c) Sering lupa dimana meletakkan barang Lesi pada otak adalah penyebab utama gangguan memori pada epilepsi, karena lesi pada lobus temporal mempunyai hubungan dengan fungsi belajar. 2. Gangguan Kognitif Pada anak, gangguan berbahasa lebih sering terjadi pada anak. Kejang berulang pada anak berhubungan dengan penurunan fungsi intelek. Dapat juga disebabkan oleh obat antiepilepsi. 3. Penurunan Fungsi Memori Verbal Disebabkan oleh operasi yaitu paska operasi epilepsi. 4. Keterbatasan Interaksi Sosial Hal itu terjadi pada epilepsi lobus frontal, karena peranan korteks prefrontal yang berperan dalam fungsi emosi, perilaku hubungan interpersonal. Apabila terganggu dapat mengakibatkan keterbatasan interaksi sosial. 5. Status Epileptikus 6. Kematian H. Penatalaksanaan 1. Penataksanaan Medikamentosa Menurut Arif Mansjoer, 2000 : Tujuan pengobatan adalah mencegah timbulnya epilepsi tanpa mengganggu kapasitas fisik dan intelek pasien. Obat pilihan berdasarkan jenis epilepsi No Bangkitan Jenis Obat 1. Fokal / Parsal Sederhana Kompleks Tonik-klonik Umum CBZ, PB, PTH CBZ, PB, PTH, VAL CBZ, PB, PTH, VAL 2. Umum Tonik-klonik Mioklonik Absena / Petit mal CBZ, PB, PTH, VAL CLON, VAL CLON, VAL CBZ : karbamazepin CLON : klonazepan VAL : asam valproat PHT : fenitol PB : fenobarbital Nama Generik Efek samping atau berkaitan dengan dosis Karbamazepin (tegretol) Pusing, mengantuk, keadaan tidak mantep, mual, muntah, diplopia, lekopenia ringan. Klonazepan Mengantuk, ataksi, hipotensi, depresi respirasi Fenitol Masalah penglihatan, hirsutisma, hyperplasia gusi, distritmia Fenobarbital Sedasi, peka rangsang, diplopia, ataksia Jenis Obat Dosis (mg/KgBB/Hr) Cara pemberian Fenobarbital 1-5 1 x / hari Fenitol 4-20 1-2 / hari Karbamazepin 4-20 3 x / hari Asam valproat 10-60 3 x / hari Kloazepam 0,05-0,2 3 x / hari Diazepam 0,05-0,015 IV 0,4-0,6 per rectal 2. Terapi Bedah Menurut Lumbantobing (1996) Tujuan operasi adalah meningkatkan kualitas hidup, dan bukan hanya menghilangkan kambuhnya serangan. Berbagai jenis operasi yang dapat dilakukan, diantaranya angkat jaringan sakit di lobus frontal dan tempat lain. Ada pula jenis operasi untuk menghilangkan atau mencegah kambuhnya serangan misalnya memotong korpus kolosom. 3. Terapi Keperawatan Menurut Rosa Sachorin (1997) Selama kejang, tujuan perawat adalah untuk mensegah cedera pada pasien. Cakupan perawat bukan hanya mencegah atau meminimukan cedera terhadap pasien, antara lain : a. Selama Kejang 1) Berikan privasi dan perlindungan pada pasien dari penonton yang ingin tahu (pasien yang mempunyai aura atau penanda ancaman kejang). 2) Tidak boleh menginggalkan pasien sendirian. 3) Mengamankan pasien di lantai, jika memungkinkan. 4) Melindungi kepala dengan bantalam untuk mencegah cedera kepala (dari membentur permukaan keras). 5) Lepaskan pakaian yang ketat. 6) Singkirkan semua perabot yang dapat mencederai pasien selama kejang. 7) Jika pasien di tempat tidur, singkirkan bantal dan tinggikan pagar di tempat tidur. 8) Jika aura mendahului kejang, masukan spatel lidah yang diberi bantalan diantara gigi, untuk mengurangi lidah atau pipi tergigit. 9) Jangan berusaha untuk membuka rahang yangterkatup pada keadan spasme untuk memasukkan sesuatu. Gigi patah dan cedera pada bibir dan lidaj dapat terkadi karena tindakan ini. 10) Tidak ada upaya dibuat untuk merestrein pasien selama kejang, karena kontraksi otot dan restrein dapat menimbulkan cedera. 11) Jika mungkin, tempatkan pasien kiring pada salah satu sisi dengan kepala fleksi ke depan, yang memungkinkan lidah jatuh dan memudahkan pengeluaran saliva dam mukus. Jika disediakan penghisap, gunakan jika perlu untuk membersihkan secret. 12) Pasang penghalang tempat tiduryang memakai pelunak, bila harus berada terus di tempat tidur, atau terjadi kejang sewaktu tidur. Bantal jangan dipakai pelunak, karena bahaya bias terjadi tercekik. 13) Observasi secara akurat dan dicatat. 14) Masase b. Setelah Kejang 1) Pertahankan pasien pada salah satu sisi untuk mencegah aspirasi, yakinkan bahwa jalan nafas paten. 2) Biasanya terjadi periode ekonfusi setelah kejang grandmal. 3) Periode apneu pendek dapat terjadi selama atau secara tiba-tiba setelah kejang. 4) Pasien pada saat bangun, harus diorientasikan terhadap lingkungan. 5) Jika pasien mengalami serangan berat setelah kejang, coba untuk menangani situasi dnegan pendekatan yang lembut dan member restrein yang lembut. c. Konsultasi dan penyuluhan Penyuluhan merupakan bagian yang penting dari keperawatan pasien dengan kejang. Yang harus mendapat penyuluhan termasuk pasien serta keluarga pasien yang merawat pada saat serangan. Melibatkan keluarga pasien dan orang lain yang berkepentingan selama pasien masih dirawat di rumah sakit dan dapat menerima anggota keluarga yang kejang. Penyuluhan pasien dnegan kejang : 1) Pemakaian obat, efek samping, dosis, waktu, laporkan efek samping kepada dokter. 2) Langkah-langkah menghindari cedera pada saat kejang. 3) Utamakan cukup istirahat dan diet. 4) Utamakan memakai obat walaupun sedang bebas kejang. 5) Memanfaatkan sumber-sumber di masyarakat. 6) Utamakan perawatan lanjutan. 7) Penting untuk mengungkapkan perasaan. 8) Kebutuhan untuk mencegah stress hebat. 9) Penting memakai tanda pengenal medis 10) Penting untuk tidak terlalu melindungi anak.

0 komentar:

Posting Komentar