ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN HIDROSEPHALUS POST OPERASI SHUNT

Senin, 18 April 2011

A. Konsep Dasar
1. Pengertian
Hidrosephalus adalah akumulasi berlebihan dari Cairan Serebro Spinal (CSS) dalam sistem ventrikel, yang mengakibatkan dilatasi positif pada ventrikel (Wong, 2004:572).
Hidrosephalus adalah keadaan dimana jumlah CSS dalam rongga serebro spinal yang berlebihan dapat meningkatkan tekanan sehingga dapat merusak jaringan syaraf (Silvia, 1995:917).
Hidrosephalus adalah suatu keadaan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan serebro spinal, disebabkan oleh produksi yang berlebihan maupun gangguan absorsi cairan tersebut (Darto sahars.wordpress.com/2006/05/20/hidrosephal).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hidrosephalus adalah suatu keadaan patologis otak akibat akumulasi berlebih dari CSS yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan syaraf dan disebabkan oleh produksi yang berlebihan maupun gangguan absorsi CSS.
Shunt adalah pengaliran darah atau cairan bukan melalui pembuluh darah yang lazim atau aliran pintas (Hincliff, 1999: 402).
2. Etiologi
a. Kelainan bawaan
1) Stenosis akuaduktus silvi
Merupakan penyebab yang paling banyak pada hidrosephalus pada bayi dan anak (60-90%). Aquaduktus dapat berupa saluran yang buntu sama sekali atau abnormal (lebih sempit)
2) Spina bifida
Hidrosephalus pada kelainan ini biasanya berhubungan dengan sindrom Arnold-Chiari akibat tertariknya medulla spinalis dengan medulla oblongata dan serebelum letaknya lebih rendah dan menutupi foramen magnum sehingga menyebabkan sumbatan.
3) Sindrom Dandy-Walker
Merupakan atresia kongenital foramen luscha dan magandi pada ventrikel IV.
4) Kista araknoid
Dapat terjadi kongenital tetapi dapat juga timbul akibat trauma sekunder suatu hematoma.
b. Infeksi
Infeksi dapat mengakibatkan perlekatan meningen sehingga dapat terjadi obliterasi ruangan subaraknoid. Biasanya terjadi setelah proses infeksi, infeksi yang sering menyebabkan Hidrosephalus adalah infeksi saluran pernapasan.
c. Neoplasma
Hidrosephalus dapat disebabkan oleh neoplasma jika tumor tersebut menekan atau menyumbat saluran dari cairan serebro spinal.
d. Perdarahan
Telah banyak di buktikan bahwa perdarahan dalam otak sebelum dan sesudah lahir, dapat menyebabkan fibrosis leptomeningen terutama pada daerah basal selain penyumbatan yang terjadi akibat organisasi dari darah itu sendiri.
3. Anatomi Fisiologi Syaraf
Sistem syaraf dapat dibagi menjadi dua yaitu sistem syaraf pusat dan sistem syaraf tepi. Sistem syaraf tepi terdiri dari susunan syaraf otonom dan susunan syaraf somatik, sedangkan sistem syaraf pusat terdiri dari medulla spinalis dan otak.
a. Medulla spinalis
Medulla spinalis merupakan suatu struktur lanjutan tunggal yang memanjang dari medulla oblongata melalui foramen magnum dan terus kebawah melalui kolumna vertebralis sampai vertebra lumbalis pertama (L1). Fungsi medulla spinalis adalah mengkoordinasi gerakan refleks, mengkoordinasi anggota gerak / tubuh, dan menyampaikan stimulus ke otak.
b. Otak
Otak dibagi menjadi 3 bagian yaitu :
1) Otak besar (Cerebrum)
Otak besar merupakan bagian otak yang paling besar dan menonjol. Disini terdapat pusat-pusat syaraf yang mengatur semua kegiatan sensorik dan motorik. Otak besar terdiri dari empat lobus yaitu :
a) Lobus frontalis
Lobus ini terletak didepan sulkus sentralis, mempunyai fungsi mengatur gerakan-gerakan terlatih seperti menulis, motorik bicara, dan mengemudi. Pada bagian prefrontal berfungsi melakukan kegiatan intelektual kompleks (berfikir), beberapa fungsi ingatan, rasa tanggung jawab dan penilaian / pandangan ke masa depan.
b) Lobus parientalis
Lobus parientalis terletak didepan sulkus sentralis dan dibelakangi oleh korako oksipital. Lobus ini memiliki fungsi utama memproses informasi sensorik (nyeri, suhu, sensasi raba dan tekan).
c) Lobus temporalis
Terletak dibawah lateral dari fisura serebralis dan didepan lobus oksipitalis. Berfungsi sebagai area sensori reseptif untuk impuls pendengaran dan mempunyai peran dalam proses ingatan tertentu.
d) Lobus oksipitalis
Bagian ini terletak dibagian belakang dari serebrum, mempunyai fungsi penglihatan, berperan dalam refleks gerak mata apabila sedang memandang atau mengikuti gerak objek.
2) Otak kecil (serebellum)
Terletak didalam fosa kranialis posterior dan ditutupi oleh durameter yang memisahkannya dari lobus oksipitalis. Fungsi utama dari serebellum adalah sebagai pusat refleks yang mengkoordinasikan dan memperhalus gerakan otot, serta mengubah tonus dan kekuatan kontraksi untuk mempertahankan keseimbangan sikap tubuh.
3) Batang otak
Batang otak pada bagian atas berhubungan dengan cerebrum, pada bagian bawah berhubungan dengan medulla oblongata dan medulla spinalis. Batang otak terdiri dari lima bagian yaitu :
a) Diensefalon
Adalah bagian teratas dari batang otak yang terletak diantara otak kecil dan mesensefalon, bagian ini berfungsi :
(1). Sebagai pengatur vasokonstriksi bagi pembuluh darah
(2). Berperan sebagai proses pernapasan
(3). Mengatur kegiatan refleks
(4). Membantu pengaturan kerja jantung
b) Mesensefalon
Fungsi utama dari mesensefalon adalah berperan sebagai pusat pengatur pergerakan-pergerakan bola mata dan kelopak mata.
c) Pons vareli
Letak bagian ini diantara otak tengah dan medulla oblongata disini terdapat bagian yang mengatur gerakan pernapasan dan refleks. Fungsi pons vareli antara lain :
(1). Penghubung antara kedua bagian serebellum dan juga antara medulla oblongata dengan cerebrum (otak besar)
(2). Merupakan pusat dari nervus trigeminus
d) Medulla oblongata
Merupakan bagian dari batang otak yang paling bawah yang menghubungkan medulla spinalis keatas. Bagian medulla oblongata yang melebar disebut kanalis sentralis yang berada dibagian tengah ventral medulla oblongata. Fungsi medulla oblongata adalah :
(1). Mengontrol pekerjaan jantung
(2). Mengecilkan pembuluh darah
(3). Sebagai pusat pernapasan
(4). Mengontrol kegiatan refleks
e) Hipotalamus
Hipotalamus terletak antara cerebrum, batang otak, dan vertebra. Banyak cirri anatomi dasar pada hipotalamus yang sama dengan formasi retikuler batang otak, misalnya neuro isendrit. Hipotalus mempunyai fungsi utama dalam pengontrol suhu tubuh, berisi reseptor suhu yang memonitor suhu darah dan thermostat yang mengatur system control produksi panas
4) Suplai darah otak
Seperti jaringan tubuh lainnya, otak juga sangat tergantung dari aliran yang memadai untuk nutrisi dan pembuangan sisa metabolisme. Kurang lebih 20 % dari seluruh suplai darah tubuh diberikan ke otak, suplai darah otak dijamin oleh 2 arteri yaitu arteri karotis interna dan arteri vertebralis, sedangkan aliran vena otak tak selalu paralel dengan suplai darah arteri; pembuluh darah vena meninggalkan otak melalui sinus dura dan kembali kesirkulasi umum melalui vena jugularis interna.
5) Ventrikel dan cairan serebro spinal (CSS)
Ventrikel merupakan rangkaian dari empat rongga dalam otak yang saling berhubungan dan dibatasi oleh ependima (semacam sel epitel yang membatasi semua rongga otak dan medulla spinalis dan mengandung CSS. Ventrikel 3 terletak didalam diensefalon, sedangkan ventrikel 4 dalam pons dan medulla oblongata, ventrikel lateral (I,II), terdapat pada setiap hemisfer serebri. Dalam setiap ventrikel terdapat struktur sekresi cairan serebro spinal yaitu pleksus koroideus, cairan ini diproduksi sekitar 500-700 ml perhari dan berisi air, elektrolit, CO2 dan O2 yang terlarut, glukosa, leukosit, dan sedikit protein. Cairan serebro spinal diproduksi di pleksus koroideus kemudian bersirkulasi dalam ventrikel-ventrikel dan ruang subaraknoid, CSS diabsorsi oleh vili araknoid kedalam sinus dura. (pleksus koroideus - ventrikel lateral – foramen monro – ventrikel 3 – aquaduktus – ventrikel 4 – ruang subaraknoid – vili araknoid). Fungsi dari cairan serebro spinal adalah melembabkan otak dan medulla spinalis, melindungi organ-organ diotak dan medulla spinalis, melicinkan organ-organ medulla spinalis dan otak.
Sirkulasi CSS
c. syaraf tepi
Syaraf tepi dibagi menjadi 2 bagian yaitu :
1) Syaraf somatic
Susunan syaraf yang mempunyai peranan spesifik untuk mengatur aktifitas otot sadar atau serat lintang
2) Syaraf otomom
Menurut fungsinya syaraf otonom dibagi menjadi dua bagian yaitu saraf simpatis dan parasimpatis.
4. Patofisiologi
Akibat dari penyebab hidrosephlus (kelainan bawaan, infeksi, neoplasma, perdarahan) dapat mengakibatkan terganggunya saluran dan absorsi cairan serebro spinal dan dapat menyebabkan peningkatan tekanan intra kranial (TIK), yang menyebabkan tekanan intraventrikuler meningkat sehingga kornu anterior ventrikuler lateral melebar.
Dengan adanya pelebaran seluruh ventrikel lateral, dalam waktu yang singkat dan diikuti oleh penipisan ependim ventrikulus. Hal ini dapat mengakibatkan permeabilitas ventrikel meningkat menyebabkan peningkatan absorsi CSS dan akan menimbulkan edema substansia alba didekatnya. Menyebabkan terjadinya hidrosepahlus. Akibat dari peningkatan tekanan CSS intraventrikular adalah sistem venosa menjadi kolaps dan penurunan volume aliran darah, sehingga terjadi hipoksia dan perubahan metabolisme parenkim (kehilangan lipid dan protein).
5. Manifestasi klinis
a. Bayi
1) Kepala semakin membesar
2) Ubun-ubun menegang dan melebar
3) Sutura melebar
4) Perkembangan terhambat
5) Nistagmus horizontal
6) Cerebral Cry, yaitu tangisan pendek bernada tinggi dan bergetar
7) Sunset phenomena, yaitu bola mata terdorong kebawah oleh tekanan dan penipisan tulang suborbital, sklera tampak diatas iris, sehingga iris seakan-akan seperti matahari yang terbenam
8) Cracked-pot sign, yaitu bunyi seperti pot yang retak atau buah semangka pada pekusi kepala.
b. Anak
1) Muntah proyektil
2) Nyeri kepala
3) Kejang
4) Kesadaran menurun
5) Papiledema
6. Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan penunjang yang dapat menegakan hidrosephalus antara lain:
a. Transmulasi kepala
b. Ultrasonografi kepala bila sutura belum menutup
c. CT-scan
7. Manajemen medik
a. Terapi medikamentosa
Hidrosephalus dengan progresivitas rendah dan tanpa obtruksi pada umumnya tidak memerlukan tindakan operasi. Dapat diberikan asetazolamid dengan dosis 25-50 mg/kg BB. Pada keadaan akut dapat diberikan manitol. Diuretika dan kortikosteroid dapat diberikan meskipun hasilnya kurang memuaskan.
b. Tindakan bedah
Terdapat 3 prinsip pengobatan untuk hidrosephalus antara lain :
1) Mengurangi produksi CSS dengan merusak sebagian pleksus koroideus dengan reseksi atau koagulasi.
2) Memperbaiki hubungan antara tempat produksi CSS dengan tempat absorsi
3) Mengeluarkan CSS kedalam organ eksternal :
Yaitu dengan cara mengalirkan cairan serebro spinal dari ventrikel keluar dari kranium. Drainase ini biasanya dilakukan pada penderita hidrosephalus obstruktif baik yang disebabkan oleh perdarahan maupun neoplasma. Komplikasi dari pemasangan shunt antara lain : disfungsi shunt, infeksi shunt, dan disproporsi kranioserebral. Macam dari shunt seperti :
a) Drainase ventrikulo-peritoneal
b) Drainase ventrikulo-pleural
c) Drainase ventrikulo-uretrostomi
d) Cara yang dianggap paling baik yaitu mengalirkan CSS kedalam vena jugularis dan jantung yang memungkinkan pengaliran CSS ke satu arah.
Drainase Ventrikulo Peritoneal
8. Dampak hidrosephalus post operasi shunt terhadap kebutuhan dasar manusia sebagai mahluk yang holistik
a. Aktivitas
Pada klien dengan hidrosephalus biasanya ditemukan kelemahan secara umum, keterbatasan dalam rentang gerak, ataksia, dan gerakan involunter. Hal ini disebabkan oleh adanya peningkatan tekanan intra kranial pada kepala sehingga menekan organ-organ disekitarnya yang menyebabkan syaraf tertekan sehingga terjadi kelemahan pada tubuh. Setelah dilakukan pemasangan shunt tekanan intra kranial akan menurun, tetapi bukan satu patokan bahwa tekanan intra kranial dapat kembali normal dan aktivitas dapat berjalan normal.
b. Sirkulasi
Dengan adanya peningkatan tekanan intra kranial menyebabkan suplai darah ke otak terganggu sehingga menyebabkan suplai oksigen dan nutrisi berkurang. Hal ini mengakibatkan otak kekurangan oksigen dan mengakibatkan jantung bekerja lebih berat sehingga menyebabkan peningkatan tekanan darah dan takikardi. Dengan adanya shunt cairan serebro spinal tersalurkan, tetapi komplikasi dari pemasangan shunt juga dapat menyebabkan aliran darah keotak tersumbat sehingga menyebabkan kurangnya suplai oksigen keotak.
c. Eliminasi
Karena adanya kerusakan sistem syaraf pusat pada klien hidrosephalus menyebabkan adanya gangguan pada pola eliminasi seperti inkontenensia dan retensi urin. Setelah dilakukan pemasangan shunt penekanan syaraf pusat akan berkurang akibat dari penyaluran cairan serebro spinal ke ekstrakranial akan tetapi, pembuangan CSS pada peritoneum dapat menekan usus dan mengganggu proses eliminasi.
d. Nyeri
Pada umumnya pasien dengan hidrosephalus akan mengalami gelisah, sering menangis, dan tampak terus terjaga. Hal ini disebabkan karena adanya nyeri kepala, shunset phenomena, dan juga pembesaran kepala pada bayi yang disebabkan karena adanya peningkatan tekanan intra kranial pada otak yang menekan jaringan sekitarnya. Setelah pemasangan shunt nyeri dapat disebabkan karena adanya insisi bedah dan selang shunt yang terpasang dari kepala bagian pariental menjalar melalui leher dan dada kemudian berakhir pada daerah epigastrium.
e. Neuro sensori
Pada pasien dengan hidrosephalus karena adanya peningkatan tekanan intra cranial maka akan terjadi kerusakan pada syaraf kranial terutama yang mempersyarafi mata dan telinga, peningkatan tekanan intra kranial juga dapat menyebabkan gangguan kesadaran dan gangguan motorik. Dengan adanya selang shunt peningkatan tekanan intra kranial akan berkurang, jika kerusakan pada syaraf kranial terjadi sebelum pemasangan shunt kelainan mungkin akan timbul.
f. Makanan / cairan
Asupan nutrisi pada pasien hidrosephalus akan terganggu sehingga mengakibatkan turgor kulit menipis, dan mebran mukosa kering. Hal itu disebabkan karena penurunan kesadaran.
g. Pernapasan
Adanya riwayat infeksi pada saluran pernapasan mungkin sebagai salah satu penyebab dari hidrosephalus, infeksi saluran pernapasan dapat menyebabkan peningkatan eksudat pada paru-paru,
h. Keamanan
Pada klien dengan hidrosepalus karena adanya peningkatan tekanan intra kranial yang mengakibatkan gangguan pendengaran dan penglihatan, peningkatan suhu tubuh, dan juga kelemahan secara umum menyebabkan klien perlu untuk diawasi demi keselamatannya. Setelah dilakukan pemasangan shunt keamanan dari cedera harus diawasi karena efek dari anastesi.
i. Hygiene
Karena adanya kelemahan secara umum / gangguan kesadaran pada klien dengan hidrosephalus menyebabkan tidak mampu melakukan aktivitas dengan sendiri, sehingga menyebabkan klien menjadi ketergantungan terhadap orang lain.
j. Pengetahuan
Pada pasien dengan hidrosephalus memerlukan pengobatan dan perawatan yang berkesinambungan. Dengan kondisi yang lemah ditambah dengan keyakinan agama yang mempengaruhi pilihan pengobatan dan perawatan menyebabkan masukan informasi tentang pengobatan dan perawatan berkurang, sehingga menyebabkan kurang pengetahuan pada keluarga. Keluarga harus diberikan informasi tentang cara merawat klien setelah pemasangan shunt
9. Dampak hidrosephalus post operasi shunt terhadap pertumbuhan dan perkembangan
Dampak hidrosephalus post-op shunt terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak adalah terganggu proses pertumbuhan dan perkembangan, misalnya gangguan pada proses penglihatan dan pendengaran karena akibat dari penekanan cairan serebro spinal terhadap otak, penurunan berat badan akibat dari muntah proyektil, dan penurunan kesadaran
10. Konsep tumbuh kembang pada anak usia infant
Pertumbuhan adalah terjadinya perubahan dalam besar , jumlah, dan ukuran sedangkan perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur.
a. Aspek pertumbuhan dan perkembangan pada usia infant
Pencapaian suatu kemampuan pada setiap anak bisa berbeda, namun ada patokan untuk mengukur kemampuan yang telah dicapai seorang anak pada umur tertentu. Tujuan dari adanya patokan umur tersebut adalah agar kita dapat memberikan stimulus pada anak yang belum mencapai kemampuan sesuai tahap umur agar dapat mencapai perkembangan yang optimal.
1) Pertumbuhan
a) Berat badan dan tinggi badan
(1). Usia 1-6 bulan
Penambahan berat badan 150-200 gram setiap minggu selama enam bulan pertama, penambahan tinggi badan 2,5 cm setiap bulan selama enam bulan pertama.
(2). Usia 6-12 bulan
Penambahan berat badan 90-150 gram setiap minggu selama enam bulan berikutnya, penambahan tinggi badan 1,25 cm setiap bulan selama enam bulan berikutnya.
b) Lingkar kepala
(1). Usia 1-6 bulan
Lingkar kepala membesar 1,5 cm setiap bulan selama enam bulan pertama
(2). Usia 6-12 bulan
Lingkar dada dan lingkar kepala sama (46,5 cm)
2) Perkembangan
a) Perkembangan psikososial menurut (Erik Erikson)
Anak pada usia 0-1 tahun berada pada tahap perkembangan trust vs mistrust yaitu dimana rasa percaya merupakan komponen awal yang sangat penting, mendasari tahun pertama kehidupannya. Hubungan ibu dan anak yang harmonis sangat penting dalam memenuhi kebutuhan fisik, psikologis dan social, karena merupakan awal pengalaman rasa percaya anak. Rasa percaya timbul bila kebutuhan dasar tidak terpenuhi.
b) Tahap perkembangan psikososial (Sigmund freud)
Menurut Sigmund freud anak pada usia 0-1 tahun berada pada fase oral yaitu kepuasan berada pada sekitar mulut, jika hubungan bayi memuaskan maka akan memberikan situasi yang penuh kasih saying, dimana itu sangat penting bagi proses pendewasaan pada masa depannya.
c) Tahap perkembangan kognitif (Piaget)
Pada usia anak 0-2 tahun piaget mengatakan anak berada pada tahap sensoris – motoris yaitu dimana menghisap (sucking) adalah ciri utama pada perilaku bayi. Pada tahap ini anak mengembangkan aktivitasnya dengan menunjukan perilaku sederhana yang dilakukan berulang-ulang untuk meniru perilaku tertentu dari lingkungannya. Jadi, perkembangan intelektual dipelajari melalui sensasi dan pergerakan.
d) Tahap perkembangan moral (Kohlberg)
Menuru Kohlberg anak pada usia 0-1 tahun berada pada tahap perkembangan moral preconventional diamana anak belajar baik dan buruk, atau benar salah melalui budaya sebagai dasar dalam peletakan moral. Tahap preconventional memiliki 3 tahapan yaitu :
(1). Tahap pertama : didsari oleh adanya rasa egosentris pada anak, yaitu kebaikan adalah seperti apa yang saya mau, rasa cinta dan kasing saying akan menolong dalam memahami tentang kebaikan.
(2). Tahap kedua : orientasi hukum dan ketaatan yaitu baik dan buruk sebagai konsekuensi dari tindakanya, oleh karena itu hati-hati apabila anak memukul temannya atau orang tua dan tidak diberi sangsi karena anak akan berfikir bahwa tindakannya bukan suatu perbuatan yang buruk.
(3). Tahap tiga : anak berfokus pada motif yang menyenangkan sebagai suatu kebaikan. Anak menjalankan aturan sebagai sesuatu yang memuaskan bagi mereka sendiri.
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Hidrosephalus Post Operasi Shunt
1. Pengkajian
Pengkajian mencakup data yang dikumpulkan melalui wawancara pengumpulan riwayat kesehatan, pengkajian fisik, pemeriksaan laboratorium dan diagnostik, serta catan riviu sebelumnya (Doengoes, 2000:7).
a. Identitas
Identitas klien meliputi : jenis kelamin, pendidikan, agama, tanggal, masuk tanggal pengkajian, alamat, nomor RM, diagnosa medis, identitis penaggung jawab nama, jenis kelamin, pendidikan, agama, alamat, hubungan dengan klien
b. Keadaan Umum
Klien dengan post-op shunt biasanya lemah, kurang aktif, dan rewel. Kesadaran pada umumnya masih belum composmentis akibat dari efek anastesi.
c. Keluhan utama
Keluhan pada anak dengan post-op shunt adalah anak sering tertidur dan jarang melakukan aktivitas.
d. Riwayat kesehatan sekarang
Biasanya klien dengan Hidrosephalus datang karena adanya pembesaran kepala, kelainan pada mata, dan kejang.
e. Riwayat kesehatan lalu
Klien dengan Hidrosephalus biasanya dapat dilatar belakangi dengan adanya cedera kepala selama proses persalinan, infeksi cerebral atau pernapasan.
f. Riwayat kesehatan keluarga
Dalam hal ini perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang pernah menderita penyakit Hidrosephalus, karena terdapat Hidrosephalus akibat kelainan bawaan.
g. Riwayat tumbuh kembang
Pertumbuhan anak biasanya terganggu; penurunan berat badan terganggunya perkembangan; fungsi motorik kasar dan halus, dan fungsi bicara sebelum dilakukan pemasangan shunt.
h. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum
Anak dengan post-op shunt biasanya lemah, kurang aktif, dan mudah tertidur, hal itu dikarenakan masih terdapatnya efek dari anastesi.
2) Antropometri
Lingkar kepala biasanya masih membesar dengan diameter melebihi normal, namun berjalan dengan waktu lingkar kepala akan semakin mengecil mendekati batas normal.
3) Pemeriksaan sistematis
a) Kepala
Pada anak dengan pemasangan shunt akan terlihat luka insisi bedah pada bagian pariental, dan teraba adanya selang shunt dari kepala menjalar keleher bagian belakang.
b) Mata
Nistagmus horizontal, refleks cahaya berkurang, dan sunset phenomena biasanya masih terdapat walaupun telah dilakukan pemasangan selang shunt.
c) Hidung
Anak dengan post-op hidrosephalus biasanya tidak mengalami gangguan dengan bentuk hidung, tetapi jika penyebab dari hidrosephalus dari infeksi saluran pernapasan maka pernapasan cuping hidung mungkin terdapat.
d) Telinga
Biasanya terdapat gangguan pendengaran akibat dari peningkatan tekanan intra kranial. Sebagian besar kien dengan post-op shunt tidak terdapat gangguan pada fungsi pendengaran.
e) Mulut
Tidak terdapat kelainan pada mulut.
f) Leher
Terlihat dan teraba pada leher bagian samping selang shunt yang melintas dari kepala bagian pariental menjalar terus melewati dada klien, biasanya klien merasakan sakit saat menggerakan leher kearah bagian yang terpasang selang shunt.
g) Pemeriksaan thorak dan fungsi pernapasan
Akan terlihat dan teraba selang shunt yang menjalar dari leher menuju peritoneum pada salah satu bagian dada, pernapasan post-op shunt biasanya melemah akibat efek dari anastesi.
h) Abdomen
Pada abdomen klien dengan post-op shunt perut terlihat cembung, dan terlihat selang pada daerah epigastrium.
i) Genitalia
Tidak terdapat kelainan pada genitalia dan anus.
j) Pemeriksaan syaraf kranial
Terdapat kelainan pada nervus 2, 3, 4, dan 6 akibat dari peningkatan tekanan inta cranial sebelum pemasangan shunt, kadang terjadi gangguan pada nervus 8.
k) Pemeriksaan penunjang
Pada pemeriksaan CT-scan biasanya terlihat akumulasi cairan serebro spinal pada ventrikel atau saluran cairan serebro spinal, terlihat pembesaran pada tengkorak, sutura terlihat lebih melebar.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah cara mengidentifikasi, memfokuskan, dan mengatasi kebutuhan spesifik pasien serta respon terhadap masalah aktual dan resiko tinggi (Doengoes, 2000:7).
a. Resiko perubahan perfusi jaringan cerebral
b. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan efek anastesi
c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan drainase mekanik
d. Nyeri akut berhubungan dengan insisi bedah
e. Resiko perubahan tumbuh kembang
f. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi anak

3 komentar:

Meity Cahyani mengatakan...

thanks na tas blogx,,
menginspirasi bngett.

Meity Cahyani mengatakan...

tapi,,,kok cmn ampe diagnosa sih.
intervensi dan lain2x mana nih.......

Laneaz Nifira SKep.NS mengatakan...

thanks komennya.
maaf ya meity, intervensinya N' lain2 lum da, soalnya sekarang dah pada pake NOK NIK, N' aku lum buat.

Posting Komentar